BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.Pembiayaan Untuk Program Pengawasan
Penyakit Menular Pengalaman Di Indonesia
Dalam reancana pembangunan Lima Tahun V ( Revelita
V) yang dimulai bulan april 1989 akan diberikan penekanan yang khusus kepada
IMR yang tinggi, dan MMR ( Maternal Mortality Rate ). Penyakit diare termasuk
24 % dari kematian bayi. Diikuti oleh radang pernapasan yang akut (23 %) dan
tetanus neonatal (22%). Bagian ini merupakan contoh pembiayaan program pemberantasan
penyakit menular di Indonesia yang merupakan bagian dari program pembelanjaan
perawatan kesehatan secara keseluruhan.
1.
Pembiayaan
Pengawasan Penyakit Menular
Perluasan program pengawasan
penyakit diare, malaria dan imunisasi diberikan prioritas utama. Hampir seluruh pengeluaran program pengawasan
penyakit memperoleh sumber dana dari pemerintah pusat yang dialokasikan melalalui
saluran yang berbeda dan beberapa dari sulmbangan pemerintah provinsi dan
kabupaten.
Anggaran pemerintah termasuk bantuan
eksternal berkurang pada tahun 1984/1985 sampai 1987/1988. Data menunujukan
berkurang 75 % selama empat tahun. Bagaimanapun juga komponen bantuan asing
tumbuh 6 kali untuk menutupi kekurangan tersebut.
2.
Pembiayaan Program Pemberantasan Penyakit
Diare (CDD)
Tren penurunan anggaran program
pemberantasan penyakit menular dalam lima tahun terakhir mengharuskan menyusun
prioritas yang lebih baik dalam program pengawasan penyakit menular untuk
menvapai satu tujuan program kesehatan nasional yaitu menurunkan Infant
Mortality Rate (IMR)
3.
Efisiensi
Biaya Pengobatan Penyakit Diare Melalui Penggunaan Obat-Obatan Secara Rasional
Studi yang dilakukan oleh
departemen kesehatan dengan sponsor dari
USAID yang berkenan dengan obat-obatan untuk kelangsungan hidup anak dalam
system kesehatan masyarakat Indonesia menyatakan bahwa sebagian besar perawatan
yang dilakun dalam menyediakan fasilitas umum masih tidak rasional termasuk
pengobatan penyakit diare. Pengeluaran untuk pembelian antibiotic sekitar 40 %
dari seluruh anggatan obat-obatan sedangkan penggunaannya tidak rasional. Di
Jawa Barat kampanye tentang Oral Rehidration Therapy (ORT) sekaranag sedang
berlangsung. Membantu penggunaan secara rasional obat-obatan dari garam oralit
terutama cairan untuk pengobatan diare di rumah.
4.
Masalah
Dalam Pembiayaan Pengawasan Penyakit Diare (CDD)
Masalah
– masalah dalam pembiayaan pengawasan penyakit diare diantaranya :
a.
Pendidikan Masyarakat
Pendidikan masyarakat memberikan peranan yang sangat
penting. Pengetahuan serta perilaku yang lebih baik sangat diperlukan jika
masyarakat meminta untuk meningkatkan sumbangan pembiayaan pengawasan penyakit
diare.
b. Peran Sektor Swasta
Peranan swasta adalah kemauannya untuk berpartisipasi dalam
penyebarluasan garam oralit sampai ke level paling bawah untuk memenuhi
permintaan . jika ini dapat dicapai makan beban pemerintah akan menjadi ringan
dan yang paling utama adalah bagaimana membangkitkan permintaan masyrakat
terhadap oralit secara tepat.
c. Training profesi medis dan paramedis
Kasus manajemen yang tidak rasional hanya dapat berkurang
dengan reorientasi medis seperti pendidikan paramedic. Usaha menambah
penggunaan oralit dari 15,5 % menjadi 68,1 % sesudah kampanye dimulai. Jika
semua pasien dirawat ideal dimana hanya 20 % yang mendapat antibiotik dan 100 %
oralit maka biaya akan menurun 51 %. Hal itu mengubah perhitungan dalam skala
besar bila penduduk yang dilayani oleh pusat kesehatan adalah 80000 orang.
Dimana penduduk dibawah lima tahun adalah 14 % atau sekitar 4.200 jelas
merupakan penghematan obat-obatan yang lebih rasional.
d.
Pembelian Obat-obatan untuk Pusat Kesehatan dan Rumah Sakit
Dalam kasus ini berdasarkan perjanjian yang bertanggung
jawab secara resmi terutama dalam usaha memperolehj obat-obatan sesuai dengan
pola penyakit dan juga aspek kasus menajemen yang rasional.
5. Integrasi pengawasan penyakit diare
dan radang tenggorokan akut
Mengingat kesamaan dalam perawatan
penyakit diare dan radang tenggorokan akut khususnya dalam manajemennya. Usaha
yang dalam aspek ini di beberapa lembaga menunjukan hasil yang dapat diharapkan.
2.2. Model Epidemiologi Dan Analysis
Cost Effectiveness Untuk Program Pengobatan Tbc Di Indonesia
Mengingat penyakit TBC merupakan masalah
yang serius dalam kesehatan masyarakat di Indonesia, pemerintah Indonesia
secara terus-menerus telah berusaha secarabesar-besaran untuk mengurangi
masalah yang timbul melalui berbagai program TBC. Untuk memperkirakan betapa
seriusnya suatu masalah dan mengevaluasi beberapa program local sebuah survei
prevalensi nasional telah dilakukan. Bagaimanapun juga dalam merencanakan
maksud tersebut khususnya dalam mengembangkan strategi pengembangan program
pengobatan, model epidemiologi sangat diperlukan untuk mengevaluasi prevalence
rate demikian juga prevented cases, dalam suatu strategi program pengobatan.
1.
Bentuk
Model Epidemiologi
Dalam sejarah timbulnya penyakit TBC
alami dan program vaksinasi BCG, secara keseluruhan telah dikenal enam kelompok
utama epidemiologi, yaitu : kelompok tidak terinfeksi (s1), kelompok terinfeksi
(s2), kelompok yang telah divaksinasi (s3), kelompok yang mendapat penyinaran
radiologi aktif (s4), kelompok yang berbaksil TBC positif (s5), dan kelompok
yang sudah sembuh (s6). Kelompok yang tidak terinfeksi (s1) adalah menjadikan
mereka tidak mempunyai tes TBC yang positif. Kelompok yang terinfeksi (s2)
adalah membuat mereka mempunyai tes TBC yang positif atau bakteri yang positif,
tetapi tidak mempunyai penyinaran radiologi aktif. Kelompok yang divaksinasi
BCG (S3) terdiri dari mereka yang bebas BCG (BCG scar). Kelompokk penyinaran
radiologi aktif (s4) dan kelompok yang berbasil TBC (s5) adalah orang yang
didiagnosis mempunyai kasus aktif dengan sinar X pada former dan spuntum yang
kemudian diuji dengan mikroskop. Kelompok yang sudah sembuh (s6) adalah mereka
yang memiliki kesembuhan atau kasus yang tidak aktif. Keenam kelompok
epidemiologi ini digunakan untuk menyusun suatu model yang menggambarkan
transisi perubahan penduduk antara kelompok epidemiologi.
2.
Perkiraan
Probabilitas Transisi
Di Indonesia vaksinasi BCG telah
menyebar luas. Vaksinasi BCG pada tahun 1980 mencapai kurang lebih 3,5 juta
anak setiap tahun. Hal ini menunjukan perkiraan (rata-rata 0,015 tiap bulan).
Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pencapaian yang terus menerus sampai tahun
2000. Pada tahun 1980 statistik TBC yang diperlihatkan adalah menunjukan bahwa
risiko terinfeksi setiap tahun kurang lebih 4% yang berarti menunjukan
(rata-rata 0,0035 setiap bulan). Untuk mengevaluasi dampak program pengobatan,
kedua penemuan dan follow-up program menggambarkan secara berturut-turut akan
menghasilkan coverage (cakupan) dan tingkat keteraturan. Kematian akibat TBC
hanya akan terjadi di antara orang dalam kelompok aktif. Besarnya tingkat
kematian tergantung kepada seriusnya penyakit yang di derita.
3.
Analisis
Cost Effectiveness
Analisis cost effectiveness adalah
perbandingan antara biaya moneter program pengawasan khusus dan program yang
memiliki keteraturan dalam arti memperkirakan prevented cases. Sebab
kebijaksanaan pemerintah Indonesia hanya diperuntukkan bagi kasus-kasus sputum
positif (diuji dengan mikroskop), biaya moneter hanya terdiri dari pengeluaran
pemerintah untuk pembelian obat bagi kasus spuntum positif.
4.
Hasil
Penerapan Model
Sesuai dengan kebijaksanaan
pemerintah Indonesia tentang program pengobatan penyakit TBC, telah diusulkan 3
strategi pengobatan yaitu, yang pertama, strategi pengobatan yang ada baru-baru
ini yang di sponsori oleh pemerintah Indonesia. Program tersebut terdiri dari
35% regimen short course dan 65% regimen standard course. Kedua, adalah 100%
regimen standard course dan ketiga, adalah 100% regimen short course. Model
epidemiologi dirancang untuk mengevaluasi keberhasilan relative dari berbagai
program pengobatan TBC, yang dalam praktiknya sebagian besar biayanya
ditunjukan untuk perencanaan kesehatan masyarakat, dimana biayai yang tersedia
juga harus diperhitungkan penggunaannya secara optimal. Program yang baik
adalah program yang mempunyai rasio cost-effectiveness yang rendah. Strategi
short course mempunyai rasio cost effectiveness paling rendah. Hamper setengah
dari rasio strategi standard course. Seperti yang diduga rasio cost effectiveness
dari strategi existing adalah rasio antara atrategi short course dan standard
course. Untuk ke 3 strategi pengobatan trend dari coverage tare dan keteraturan
lama hingga tahun 2000, diterapkan sesuai dengan rencana induk pemerintah
tentang pengawasan TBC. Penggunaan serangkaian trend pengobatan oleh pemerintah
mempunyai manfaat sebagai alat untuk mengevaluasi program pengobatan pemerintah
yang nyata. Evaluasi ini secara praktis ditujukan kepada pemerintah dalam
memformulasikan program pengawasan TBC.
5. Arahan Kebijaksanaan
Penemuan model epidemiologi menjamin
bahwa strategi short course akhirnya menghasilkan penurunan prevalence rate
yang besar. Analisis cost effectiveness menunjukan bahwa egimen short course
adalah strategi yang paling baik. Penemuan ini konsisten dengan kenyataan bahwa
biaya regimen short cource tidak banyak berbeda dari regimen yang lain, tapi
biaya pengobatan kekambuhan sangat tinggi. Sebagai suatu regimen dengan tingkat
kekambuhan yang lebih rendah, regimen short course mempunyai kebaikan dalam hal
perbedaan biaya, yang menggambakan adanya sedikit perbedaan biaya komulatif
dari ketiga strategi. Demikian dalam masalah biaya pengobatan, secara
keseluruhan ke tiga strategi tidak banyak berbeda, tetapi dalam masalah
prevented cases terdapat perbedaan yang berarti. Strategi short course
menghasilkan hamper dua kali lipat banyaknya prevented cases seperti standard
course dan satu serta satu setengah kali seperti banyaknya strategi existing.
Dibandingkan dengan strategi
exsiting, penerapan strategi short course menghasilkan 8% tambahan dari biaya
keseluruhan, tetapi 98% tambahan dari prevented cases keseluruhan. Ini
menunjukan bahwa dengan menambah sedikit budget pemerintah akan siap untuk melancarkan
strategi short course yang akan menambah prevented cases. Dalam kenyataannya
pemerintah hanya membutuhkan budget kurang lebih 13,2 juta dolar selama 20
tahun, rata-rata menambah lebih dari setengah juta dolar setiap tahaun. Dalam
menghitung biaya, hanya orang yang menyangkut biaya pengeluaran pemerintah
untuk obat-obatan yang telah dihitung, banyak pengeluaran lain yang diadakan
seperti biaya overhead, biaya tenaga kerja, biaya capital, dan biaya penanganan
kasus. Study ini tidak mencoba untuk memperkirakan biaya ini sebab sukar
diperkirakan, dan kecuali untuk penanganan kasus, biaya yang lain mungkin sama untuk ketiga strategi tersebut. Biaya
penanganan ksus secara tertutup berhubungan dengan besarnya tingkat
keteraturan. Tingkat keteraturan terdiri dari regimen standard course adalah
lebih mahal untuk memelihara atau menambah daripada regimen short course, sebab
lamanya dan jumlah obat-obatan yang dikonsumsi adalah lebih besar. Oleh karena
itu jika siap untuk memperkirakan biaya penanganan kasus, perbedaan rasio cost
effectiveness antara regimen standard dan short course akan lebih besar.
Demikian pencantuman biaya penanggulangan kasus dalam analisis biaya akan
merupakan penemuan yang besar dalam studi ini.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Aplikasi secara strategi short
course untuk program pengobatan TBC di Indonesia adalah dapat dibenarkan.
Bahkan jika rata-rata pertambahan budget lebih dari setengah juta dolar setehun
selama 20 tahun tidak mungkin pemerintah masih siap untuk menambah secara berangsur-angsur
proporsi regimen short cpurse diterapkan pada program pengobatan nasional.
Setiap usaha akan tatap cenderung kea rah strategi regimen short course. Mengingat
penyakit TBC merupakan masalah yang serius dalam kesehatan masyarakat di
Indonesia, pemerintah Indonesia secara terus-menerus telah berusaha
secarabesar-besaran untuk mengurangi masalah yang timbul melalui berbagai
program TBC. Untuk memperkirakan betapa seriusnya suatu masalah dan
mengevaluasi beberapa program local sebuah survei prevalensi nasional telah
dilakukan. Bagaimanapun juga dalam merencanakan maksud tersebut khususnya dalam
mengembangkan strategi pengembangan program pengobatan, model epidemiologi
sangat diperlukan untuk mengevaluasi prevalence rate demikian juga prevented
cases, dalam suatu strategi program pengobatan.
DAFTAR
PUSTAKA
Tjiptoherijanto,Prijono
dan Budhi Soesetyo (2008). Ekonomi
Kesehatan, Rineka Cipta. Jakarta